Berita
Merespon Pandemi, Mahasiswa Jurnalistik Islam Gelar Pameran DKV

Merespon Pandemi, Mahasiswa Jurnalistik Islam Gelar Pameran DKV

Jurnis, IAIN Ambon – Merespon kondisi pandemi Covid-19 yang memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya di Kota Ambon, mahasiswa Program Studi (Prodi) Jurnalistik Islam semester lima, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri Ambon gelar pameran desain komunikasi visual bertajuk “Serba-Serbi Pandemi” di Laboratorium Komunikasi Massa. Kamis, 25 Februari 2021.

Para mahasiswa membuat beberapa produk bertema pentingnya menjaga kesehatan dan diri dari resiko pandemi. Produk yang dihasilakn diantaranya Mock Up, topi, jaket, infografis, dan pameran foto.

Salah satu dosen sedang melihat hasil karya mahasiswa

Khoirunnisa Ali Siompo, salah seorang mahasiswa Prodi Jurnalistik Islam, mengatakan pameran itu selain sebagai pemenuhan ujian akhir semester juga merupakan respon mereka atas kondisi saat ini.

“Kita lakukan untuk nilai UAS sekaligus menampilkan karya mahasiswa jurnalistik kepada jurusan lain,” kata Ketua Panitia itu.

Ketua Prodi Jurnalistik Islam Andi Fitriani, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat menumbuhkan kreativitas mahasiswa. “Semoga ke depan mahasiswa Jurnalistik Islam bisa terus mengembangkan kreatifitas dan lebih inovatif,” katanya.

Kegiatan yang berlansung pada 24 hingga 25 Februari itu, turut menghadirkan para pelaku ekonomi kreatif anak muda Kota Ambon. Seperti Kutikata, Tana Paper, dan Mi Jek.

Sesi diskusi bersama para pelaku ekonomi kreatif di Kota Ambon. Kiri ke kanan, Khairunnisa (moderator), Revelino Berry (Kutikata), Sammy (Mi Jek), dan Grace Rijoly (Tna Paper)

Kutikata merupakan produk baju dengan mengusung tema pelestarian bahasa daerah. Produk yang digagas Revelino Berry ini telah berjalan sejak 2016. Ia mengatakan Kutikata hadri dari keresahannya terhadap persoalan bahasa daerah yang telah hilang, terutama di kalangan komunitas Kristen.

“Saya harus jujur kalau di kampong-kampung muslim bahasa itu masih terjaga, beda dengan kami kampong-kampung kristen yang sudah hilang akibat pengaruh Belanda dan gereja,” kata Bey, sapaan akrabnya.

Keresahan itu yang akhirnya melahirkan Kutikata. Sejak berdiri ia memanfaatkan media social sebagai tempat berjualan. “Tidak ada toko offline, kalau ada yang order biasanya lewat ig atau langsung japri,” ujarnya.

Sementara Tana Paper hadir dari kreasi dua perempuan muda Priska Birahy dan Grace Rijoly. Mereka memanfaatkan limbah sagu, yang diubah menjadi barang bernilai komersil. Priska dan Grace menciptakan kertas dari serbuk sisa olahan sagu, ada pula anting dan beberapa produk lainnya.

Sedangkan Mi Jek merupakan aplikasi sejenis Grab maupun Go-Jek yang sementara dikembangkan dua anak muda Sammy dan Ariel Salamena. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *